Artikel kesehatan

Info Kesehatan
Reputasi Teh untuk Menjaga Kesehatan

Jangan tinggalkan kebiasaan Anda minum teh. Begitulah saran terbaru para ahli. Berbagai hasil penelitian makin membuktikan, teh ternyata punya peran besar untuk mencegah berbagai penyakit berat.

Pernyataan ini memang sedikit kontroversial, mengingat versi kesehatan yang banyak dianut sekarang ini adalah makin sehat dengan buah dan sayuran. Tetapi para penggemar teh termasuk fisikawan John Weisburger PhD-yang sudah dua kali memimpin simposium ilmiah internasional tentang teh dan kesehatan-berkeras, teh jauh lebih bermanfaat.

Beberapa penelitian memang menunjukkan, teh yang ditemukan di Cina 4.000 tahun lalu dan pelan-pelan masuk ke peradaban Barat, bisa mencegah kanker dan penyakit jantung.

Orang mungkin sudah banyak tahu, kandungan utama teh adalah tanin dan kafein, yang selama ini dianggap menghambat penyerapan mineral utama untuk pembentukan tulang. Ternyata pendapat itu tidak benar, karena peneliti dari University of Cambridge School of Medicine, Inggris, membuktikan sebaliknya: minum teh bisa mencegah osteoporosis pada perempuan pascamenopause (baca juga Teh Cegah Perempuan Kena Osteoporosis).

Teh memang mengandung zat antioksidan yang dikenal dengan sebutan polifenol, yang tampaknya berperan besar dalam pencegahan berbagai penyakit termasuk osteoporosis. Polifenol sendiri merupakan jenis bioflavonoid yang banyak ditemukan pada tanaman termasuk kopi, anggur merah segar, kacang merah, kismis, buah prem, dan juga minuman anggur merah.

Menurut Weisburger seperti dikutip CNN.com, polifenol 100 kali lebih efektif dari vitamin C dan 25 kali lebih efektif dari vitamin E. Polifenol berfungsi menetralisir radikal bebas, suatu produk sampingan dari proses kimiawi tubuh yang cukup mengganggu. Kemampuan inilah yang mungkin menjadi jawaban, mengapa teh kemudian juga bisa mencegah serangan jantung dan kanker.

Sebuah studi yang dilakukan para peneliti Iowa dan dipublikasikan dalam American Journal of Epidemiologi, tampaknya menjadi landasan pendapat Weisburger. Studi yang melibatkan lebih dari 35.000 perempuan yang sudah menopause itu menunjukkan, mereka yang minum sedikitnya dua cangkir teh hitam setiap hari ternyata 40 persen lebih rendah kecenderungannya terkena kanker saluran kemih dan 68 persen lebih rendah kemungkinannya terkena kanker usus dibanding perempuan yang tak pernah minum teh.

Penelitian lain menunjukkan, teh bakal menjadi senjata menjanjikan untuk melawan kanker perut, empedu, esofagus, prostat, bahkan juga payudara. Studi di Cina juga menyebutkan, para perokok yang biasa minum teh berkurang risikonya terkena kanker paru-paru.

Bagaimana teh bekerja melawan semua itu? Yang prioritas untuk disebut tentu saja adalah kandungan polifenol yang bekerja dengan tiga cara.

Pertama, polifenol mencegah radikal bebas merusak DNA dan menghentikan perkembangan sel-sel yang liar yang menjadi kanker sejak dini. Kedua, polifenol mampu mengontrol pertumbuhan sel-sel yang tak terkendali dan mengambat perkembangan kanker. Ketiga, polifenol tertentu dapat menghancurkan kanker tanpa merusak sel-sel di sekitarnya.

Ketika ilmuwan Jepang mengkombinasikan pengobatan kanker yang konvensional dengan polifenol ini, seperti yang dipublikasikan dalam Japanese Journal of Cancer Research ternyata hasilnya 20 kali lebih efektif dibanding pengobatan konvensional saja.

Sementara yang berkaitan dengan jantung, para peneliti menemukan bahwa perempuan berusia lebih dari 55 tahun yang setiap hari sedikitnya minum teh hitam dua kali, 54 persen berkurang kemungkinannya terkena aterosklerosis dibanding yang tidak minum. Ateroskeloris adalah penyumbatan pembuluh darah yang bisa memicu munculnya serangan jantung maupun stroke. Makin banyak teh yang diminum, makin turun risikonya.

Studi yang dimuat di Archive of Internal Medicine menyebutkan, polifenol kemungkinan berperan sebagai pencegah kolesterol jahat (LDL, low density lipoprotein) memicu bertumpuknya plak yang bisa menyumbat arteri. Dan karena mencegah aterosklerosis, antioksidan pada teh ini juga memperlancar arteri mengirim darah yang penuh gizi ke jantung dan ke seluruh tubuh.

Namun, Weisburger mengingatkan, para peminum teh herbal jangan berharap bisa mendapatkan keuntungan serupa. Soalnya teh herbal yang dibuat dari berbagai tanaman dan bumbu dapur itu justru seringkali tidak mengandung polifenol sama sekali.

Menurut Elizabeth Kaegi MB yang mempromosikan terapi alternatif pada Canadian Breast Cancer Research Initiative, tanin yang belum mengalami derivatisasi tidak hanya membantu mencegah kanker, tetapi juga mencegah dan menyembuhkan gangguan pada ginjal karena mampu menetralkan radikal hidroksil yang menyebabkan kesalahan metabolisme protein pada ginjal.

Cuma untuk menghindari dampak kafein yang bisa menimbulkan perasaan gugup, insomnia, dan denyut jantung tidak teratur, disarankan meminum teh tidak berlebihan terutama pada ibu hamil dan menyusui.

Akan tetapi bagi yang sehat, minum lebih dari empat cangkir teh tidak masalah. "Dalam jumlah itu, konsentrasi senyawa antikankernya sudah cukup banyak untuk menghambat pertumbuhan sel-sel kanker," kata Dorothy Morre, profesor pangan dan gizi di Purdue School of Consumer and Family Sciences.



[Dibaca 5248 kali]
Developed by JogjaCamp Teh Kesehatan Copyright 2013